Diharamkannya Pemajakan di Pasar

626

Pasar adalah sarana publik untuk anggota masyarakat dapat berjual beli. Karena itu menjadi hak konsumen maupun pedagang untuk mendapatkan sarana tersebut, tanpa dipungut biaya sewa, dan dengan bebas dapat keluar masuk pasar. Karenanya dalam ajaran Islam pasar haruslah merupakan tempat terbuka. Tidak boleh disekat-sekat. Jadi, bukan merupakan deretan dan kumpulan kios-kios milik pribadi.

Selain itu, Rasul SAW melarang pemajakan dalam bentuk pajak apa pun dikenakan pada pedagang di pasar. Sebab, sewa kios, dan pajak, akan membebani baik pedagang maupun konsumen. Keuntungan pedagang berkurang, sementara beban harga yang ditanggung oleh konsumen akan meningkat.

Dalam riwayat berikut, dengan tegas Rasul; SAW mengharamkan pemajakan di pasar.

Ibrahim al Mundhir meriwayatkan dari Ishaq ibn Ja’far ibn Muhamad dari Abdullah ibn Ja’far ibn al Miswat, dari Syuraih ibn Abdullah ibn Abi Namir bahwa Ata ibn Yasar mengatakan, “Ketika Rasul SAW ingin mendirikan sebuah pasar di Madinah, beliau pergi ke pasar [Yahudi] Bani Qainuqa dan kemudian kembali mendatangi pasar Madinah, menjejakkan kaki ke tanah dan bersabda, ‘Ini pasar kalian. Jangan membiarkannya berkurang dan jangan biarkan pajak apa pun dikenakan’”. (Ibnu Saba K Tarikh Al Madinah Al Munawarah, 304).

 Hal ini penting diketahui dan diamalkan.