Ekspor Indonesia Sejak Pemerintahan Jokowi-JK (2014-2016) Merosot

600

Berdasarkan data resmi Kementerian Perdagangan dan Badan Pusat Statistik ekspor Indonesia selama tigat tahun(2014,2015,2016) menurun dan tren pernurunan ini belum bisa dibalikkan. Pengamat Dr Sigid Kusumowidagdo mengemukakan fakta tersebut dengan beberapa data berikut:

  1. Hasil  Kumulatif Januari – Desember 2014 = Dolar AS 176,29 milyar
  2. Hasil Kunukatif Januari – Desember 2015 = Dolar AS 150,25 milyar
  3. Hasil Kumulatif Januari – Desember 2016 = Dolar AS 144,43 milyar

Sesuai prediksi Menteri perdaganagn Thomas Lembang tahun lalu saat ini masih proses stabilsasi belum bisa menaikkan ekspor. Baru 2017 diharapkan kan lebih baik, tetapi angka prediksi belum bisa ditetapkan.

Tidak berarti selama itu tidak ada surplus perdagangan, seperti pada khusus bulan Desember 2016 ekspor US $ 17 37 milyar impor memurun lebih cepat menjadi US $ 12,76 milyar sehingga bisa terjadi surplus, (walaupun ekspor menurun 3,95 %). Penunan impor bukanlah selalu karena kebijakan pemerintah tetapi karena pelambatan kondisi idustri dalama negeri karena industri-industri  banyak yang mengurangi bahan baku dan bahan penolong karena mengatisipasi pengurangan produksi karana turunnya konsumsi dalam negeri dan ekspor barang.

Karena peran bahan baku , dan bahan penolong serta barang modal import itu penting untuk produksi industri olahan ( manufaktur). Jika ekspor industri olahan (manufaktur) turun maka volume imporpun diturunkan. Sebagai contoh ekspor non migas kumulatif Januari-Desember 2016 mencapai US $144,43 milyar menurun 3,95 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produk industri olahan manurun 4,73 % (dari US $ 56,39 mulyar menjadi US $ 53,72.).

Kesimpulannya bagi Indonesia impor bahan baku, bahan penolong dan batang modal sama pentingnya dengan hasil ekspor.

Dr Sigid menyatakan bahwa dampak dari penurunan hasil ekspor ini adalah:

a. Cadangan Devisa negara menurun
b. Kemampuan membayar utang luar negeri menurun.
c. Kemampuan untuk membayar pembelian bahan baku, bahan penolong dan barang modal serta bahan konsumsi dari luar negeri berkurang.
d.  Meningkatkam defisit anggran negara terutam terkait impor tau yang menggunakan jasa dari luar negeri

“Melihat kondisi ini fundamenal ekonomi Indonesia menjadi lebih lemah,” simpulnya.