Greenpeace: “Udara Jabodetabek Buruk!”

459

Kualitas udara di wilayah Jabodetabek semakin buruk. Setelah memantaunya di 19 titik uji selama Februari-Maret lalu, Greenpeace menyatakan: “Datanya mencengangkan!”

Di wilayah perumahan seperti Cibubur, tingkat PM 2.5 rata-rata selama dua bulan berada di angka 103.2 µg/m3. Ini jauh dari batasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni 25 µg/m3, dan standar minimum Baku Mutu Udara Ambien Nasional 65 µg/m3. Tak hanya itu, daerah perumahan lainnya yakni di Kebagusan (65.9  µg/m3) dan Gandul-Depok (71.5  µg/m3) juga sama tingginya.

“Selama ini kita tidak pernah menyadari betapa buruknya kualitas udara Jakarta karena tidak ada data yang tersedia,” ujar Bondan Andriyanu, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

Menurut LSM ini, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan. Pasalnya, PM 2.5 adalah polutan yang secara diam-diam membunuh kita. Polutan ini sangat kecil, berukuran satu per tiga puluh dari satu helai rambut, dan bisa menyebabkan berbagai macam penyakit. Seperti penyakit pernafasan akut pada anak, penyakit paru kronis, penyakit jantung, kanker paru-paru, dan stroke.

“Data ini membantu kita memahami bahwa beberapa penyakit yang selama ini kita derita berkaitan erat dengan kualitas udara yang kita hirup tiap harinya,” Bondan menegaskan.

Dengan menggabungkan analisis risiko dari Global Burden of Disease Project yang dilaksanakan The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) dan tingkatPM 2.5 tahunan, Greenpeace dapat menghitung meningkatnya risiko kematian karena penyakit tertentu pada berbagai tingkat PM 2.5 tahunan. Risiko kematian akibat stroke meningkat hampir 2.5 kali lipat di Cibubur dan sekitar dua kali lipat di wilayah Tambun, Setiabudi, Citayam, Ciledug, Kebagusan, Depok, Cikunir, Jatibening, dan Warung Buncit.

Solusinya, pemerintah harus memasang alat pemantau kualitas udara, serta menyajikan data hasil pemantauan yang bisa diakses oleh publik. Berbekal informasi tersebut, pemerintah seyogianya merancang dan menerapkan strategi untuk mengurangi polusi udara dengan mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum, memperbesar porsi penggunaan energi baru-terbarukan, serta memperketat regulasi emisi khusus untuk sektor pembangkit.