Hati-Hati, Koin Dinar Dirham Terkikis

827

Dalam salah satu riwayat Nabi Muhammad Salallahualaihi wa salam menyatkan bahwa:

Transaksi pertukaran emas dengan emas harus sama takaran dan timbangannya, dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; perak dengan perak harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba.”

Pernyataan ini sangat penting dipahami juga dalam kaitannya dengan koin Dinar emas dan Dirham perak, karena keduanya adalah satuan berat, yang tak boleh berubah. Dinar  adalah 1 mithqal, yakni 4.25 gr, sedangkan untuk Dirham perak mengikutinya dengan rasio 7/10, yaitu 2.975 gr perak.

Di masa lalu, salah satu cara orang memakan riba, adalah dengan mengikis koin Dinar  atau Dirham, hingga beratnya tidak lagi memenuhi syarat. Debu emas dan perak hasil kikisan itu dikumpukan dan kemudian diolah lagi, entah jadi perhiasan ataupun koin baru.

Saat ini telah ditetapkan standar toleransi berat koin emas untuk bisa tetap dinyatakan sebagai 1 mithqal adalah 4.25 gr +/- 1%. Artinya bila koin Dinar atau Dirham berkurang atau kelebihan masing-masing sebanyak 1%, yaitu 0.0425 gr untuk Dinar dan 0.0297 untuk Dirham,  maka koin tersebut harus dilebur dan dicetak ulang, dengan dikoreksi beratnya.

Koin-koin  yang telah beredar tentunya tidak mungkin mengalami penambahan berat, kecuali karena kotoran; tetapi  dimungkinkan berkurang beratnya, akibat aus secara alamiah karena gesekan-gesekan atau sengaja dikikis. Berat minimal koin Dinar adalah 4.20 gr, sedang Dirham perak adalah 2.945 gr.

dianr-terkikis2

Pengikisan secara sengaja untuk mengambil debu emas dan peraknya, saat ini, kemungkinannya kecil terjadi. Tetapi, tanpa sengaja, bisa saja hal ini terjadi tanpa disadari akibat salah satu teknik pengujian, karena koin  digesekkan ke batu gosok.  Secara fisik ini akan terlihat dengan kerepesnya permukaan koin, terutama pada gerigi tepi koin, yang dibuat untuk melindungi koin dari pengikisan.

Berikut adalah foto-foto mikroskopik yang diambil oleh Ibu Novy Wulandari dari Wakala Ar Rafi, Bandung, yang memperlihatkan koin yang sebagian sisinya telah gerepes. Ketika ditimbang koin Dinar tersebut beratnya 4.22 gr, yang masih dalam batas toleransi 1 mithqal. Hanya saja karena secara fisik cacatnya cukup berat, maka koin tersebut harus dilebur dan dicetak ulang.

Sebagaimana telah dijelaskan oleh Haji Umar Ibrahim Vadillo emas murni 24 karat relatif  lunak, dan kemungkinan mengalami kikisan secara alamiah, akibat gesekan sesama koin, misalnya, akan lebih mudah terjadi. Dari hasil penelitian umur koin emas 24 karat adalah 3 tahun, sebelum mengalami keausan. Koin emas 22 karat, dengan campuran perak dan atau tembaga, akan menjadikan umurnya jauh  lebih panjang, sampai 15 tahunan.

dianr-terklikis3

Kecuali kalau koin itu hanya disimpan di lemari. Tetapi,  Dinar dan Dirham adalah alat tukar yang harus terus-menerus berpindah dari tangan ke tangan. Menimbunnya terus-menerus adalah haram hukumnya. Dalam  Al Quran, yakni surat at Taubah ayat 34, Allah  Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak, serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukan kepada mereka (bahwa mereka akan mendapatkan) siksa  yang pedih.”

Apakah bentuk  hukuman yang pedih ini?

Dalam ayat 35, surat yang sama, Allah Ta’ala, melanjutkan: “Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahanam, lalu diseterika dengannya dahi, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: ’Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) harta yang kamu simpan itu.’”

dinar-terkikis

Sangat jelas dan tegas, siksaan bagi penimbun harta adalah  tersurat dengan lugas, diseterika dengan lelehan Dinar emas dan Dirham perak Anda sendiri pada ‘’dahi, lambung dan punggung.’’

Dalam dua ayat terebut Allah Ta’ala menggunakan istilah ‘yaknizun’, yang darinya juga lahir istilan ‘kanzul mal’, yang secara spesifik hanya dimaksudkan kepada meyimpan dan menimbun emas dan perak, yakni alat tukar atau uang yang seharusnya beredar di masyarakat.

dinar-terkikis1