Inilah Pasar Muamalah, Tempat Koin Emas dan Perak Berlaku

1161

Memilih alat tukar adalah bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM). Karena itu tidak boleh ada yang melanggarnya, dengan memaksakan alat tukar tertentu.Pemberlakukan undang-uang mata uang (kertas) tidak menghilangkan hak dasar ini.

Karena itu di berbagai masyarakat tradisional penggunaan alat tukar berlakau bebas. Di Nusa Tenggara Timur, ada masyarakat yang menggunakan daging ikan paus kering, atau apa saja yang disepakati bersama,  sebagai alat bayar. Pertukaran barter  berlangsung,  di Pasar Wulandoni, di Lembata, di NTT ini.

Dalam beberapa tahun terakhir ini juga muncul jenis pasar yang memberikan kebebasan bertransaksi, yang disebut sebagai Pasar Muamalah. Hanya berbeda dengan pasar barter di Pasar Muamalah berlaku koin emas (dinar) dan koin perak (dirham) sebagai alat bayar. DI Pasar Muamalah ini pedagang bebas berjual beli. Tidak dipungut bayaran sewa. Tidak dipajaki. Tidak boleh ada riba.

Secara reguler Pasar Muamalah dapat ditemukan di tiga kota: Depok (Jawa Barat), Ketapang (Kalimantan Barat), dan tanjung Pinang (Pulau Bintan, Kepri). Pasar ini ada yang buka sepekan sekali, ada yang sebulan sekali. Jenis dagangan yang bis aditemukan di situ sangat beragam, layaknya di sebuah pasar. Harga-harga akan dibandrol dalam dinar emas atau dirham perak.

Di Depok, Jawa Barat, diselenggarakan di Tanah Baru, setiap hari Ahad bi peklan ke-3 setiap bulannya. Penyeloenggaranya adalah Amirat Indonesi adan Baitul Mal Nusantara. Secara rutin setiap menjelang Pasar Muamalah pihak Baitul Mal Nusantara selalu membagikan zakat mal dalam bentuk dirham perak. Begitu juga di Ketapang dan di Tanjung Pinang. Di kedua tempat ini Pasar Muamalah masing-masing ada di bawah perlindungan Mangku Negeri Tanjung Pura dan Kesultanan Bintan Darul Masyhur.