Klarifikasi Salah Paham Analogi “Vaksin-Miras” dari Zaim Saidi

4109

Gara-gara status di akun Facebook, yang dibagi melalui akun Twitter-nya, mantan Sekretaris Eksekutif Yayasan Lembaga Konsumen (YLKI), dan pengamat kebijakan publik dari PIRAC, Ir Zaim Saidi, soal vaksinasi terjadi kesalahpahaman, terutama dengan pihak profesi kedokteran. PB IDI (Ikatan Dokter Indonesia) secara khusus menanggapi cuitan tersebut dan menganggap pernyataan Ir Zaim Saidi mengandung pelecehan terhadap profesi dokter.

Divaksin atau tidak adalah hak orang tua. Membahas vaksin dengan para dokter itu serupa dengan membahas miras dengan pemabok.

Demikian cuitan asli di lini masa FB Ir Zaim Saidi. Kontan cuitan itu menjadi viral dan banyak sekali ditanggapi, termasuk dari PB IDI di atas. Benarkah ada unsur pelecehan terhadap profesi dokter?

Kepada beberapa media yang menghubunginya Jumat malam, Ir Zaim Saidi memberikan klarifikasinya, bahwa itu hanyalah analogi, dan membacanya mesti dengan tepat. “Kesalahpahaman saja itu, karena saya dianggap menyerupakan dokter dengan pemabok,” ujarnya.

“Itu sebenarnya tanggapan umum saya soal vaksinasi yang masih banyak kontroversi. Ada soal kehalalannya, ada soal keamanan dan risikonya, dan ada soal efektifitasnya. Kan saya katakan bahwa itu hak orang tua, artinya masyarakat kan boleh memilih mau divaksin atau tidak,” tambahnya.

“Adapun soal analogi ‘seperti bicara miras dengan pemabok’ itu soal relasi, soal kedekatan, dan kepentingan. Dokter kan berkepentingan langsung dan sebagai pengguna vaksin, karena itu  kalau berbicara dengan dokter kan ya tidak netral. Ada kepentingannya. Sedang masyarakat perlu sumber rujukan lain yang netral,”  ujarnya.

Jadi, jelas bukan dokter dan pemaboknya, atau miras dan vaksin, yang diserupakan. Di sinilah terjadi kesalahpahaman menurut Ir Zaim yang sejak di YLKI dulu selalu kritis dengan dunia medis dan layanan kesehatan.

“Semoga klarifikasi ini membuat suasana jadi adem ayem,” Ir Zaim menambahkan. Dan masyarakat tetap bebas memilih sesuai dengan kemaun dan haknya sebagai konsumen.