Koalisi LSM ASEAN Serukan Larangan Mikroplastik

659

Sejumlah LSM di ASEAN menyerukan kepada pemerintahan agar melarang penggunaan partikel mikro plastik dalam produk kosmetik. Kelompok ini mendesak negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), dengan pasar yang besar lebih dari 500 juta konsumen, untuk melarang microplastik dalam produksi perawatan pribadi dan produk kosmetik.

Seruan ini terkait dengan ASEAN Cosmetic Committee Meeting ke-26 dan acara terkait yang akan diselenggarakan pada 01-05 Mei 2017 di Kamboja. Mereka meminta agar larangan mikroplastik masuk dalam ASEAN Cosmetic Directive.

Kelompok LSM ini terdiri atas Balifokus (Indonesia), Asosiasi Konsumen  Penang (Malaysia), EcoWaste Koalisi (Filipina), Siaga Ekologis dan Pemulihan Thailand (Thailand), dan Pusat Penelitian Jender, Keluarga dan Lingkungan dalam Pembangunan (Vietnam.

Petisi ini disusun berdasarkan resolusi yang diadopsi pada Sidang United Nations Environment kedua pada tahun 2016, yang menyatakan bahwa “kehadiran sampah plastik dan microplastics di lingkungan laut meningkat pesat menimbulkan masalah serius yang menjadi perhatAian global yang membutuhkan tanggapan global yang mendesak.”

“Selain itu, kehadiran microplastics dalam makanan laut yang kita konsumsi berpotensi meningkatkan paparan langsung dari bahan kimia plastik terkait dengan manusia dan dengan demikian menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia”, kata S.M. Mohamed Idris, Presiden Asosiasi Konsumen Penang.

Partikel plastic mikro  tidak dapat dikumpulkan untuk didaur ulang, juga tidak terurai dalam fasilitas pengolahan air limbah, mau tidak mau berakhir di lautan global, dan tetap bertahan selama ratusan tahun untuk sampai benar-benar bisa diurai.

Contoh kosmetik yang mengandung  microplastic termasuk formulasi seperti deodoran, sampo, kondisioner, shower gel, lipstik, pewarna rambut, krim cukur, tabir surya, obat nyamuk, krim anti-kerut, pelembab, hair spray, masker wajah, produk perawatan bayi, eye shadow, maskara, dll.

Studi ilmiah menunjukkan bahwa partikel microplastic dapat menyerap dan melepaskan bahan kimia yang sangat beracun seperti polutan organik yang persisten seperti dichlorodiphenyltrichloroethane (DDT) dan polychlorinated biphenyls (PCB). Microplastics sarat-racun ini dapat dengan mudah dimakan oleh ikan, kerang dan organisme air lainnya dan dengan demikian mencemari rantai makanan laut dan menghadirkan risiko bagi kesehatan manusia dan lingkungan.