Mengapa Harga Barang dan Jasa Naik Terus?

1919

Oleh Rengky Yasepta

Menjelang puasa Ramadhan dan lebaran kita biasanya dihebohkan dengan kenaikan berbagai kebutuhan sembako dan beberapa keperluan yang identik dengan Ramadhan dan hari raya. Sebelum persalinan anak kedua kami beberapa hari yang lalu, istri saya masih sempat shopping-shopping ke supermarket dan pasar tradisional. Kami berniat menyiapkan kue buat para tamu yang sekiranya akan datang menjenguk bayi kami yang baru lahir nantinya. Betapa terkejutnya istri saya melihat beberapa item barang yang biasa dibelinya sudah naik hampir dua kali lipat. Minyak goreng misalnya, semula harganya berkisar Rp.19.000 hingga Rp. 21.000 per 2 liter, tiba-tiba sudah nangkring di harga Rp.35.000. Kebutuhan-kebutuhan lain juga demikian, terutama yang berhubungan langsung dengan persiapan buat stok berbuka puasa. Misalnya lagi gula aren, semula hanya dibanderol dengan harga Rp.8.000 per buah, kini saat menjelang puasa naik hingga Rp.15.000 untuk gula aren dengan kualitas dan kuantitas yang sama.

Hal-hal di atas terasa familiar, bukan? Ya, bisa dibilang kenaikan harga barang sudah menjadi ritual rutin setiap ada peristiwa besar seperti puasa Ramadhan dan menjelang hari raya. Lalu apa sih penyebab kenaikan harga beberapa barang kebutuhan tersebut? Bukankah memang naiknya harga barang adalah sesuatu yang lumrah?

Mari kita urai satu per satu.

Penyebab kenaikan harga barang dan jasa setidaknya ada tiga: Pertama, karena faktor kelangkaan (scarcity); Kedua, karena faktor inflasi; Ketiga, karena manipulasi dan spekulasi segelintir orang.

PERTAMA, FAKTOR KELANGKAAN.
Pernahkah Anda menyaksikan seseorang yang suka mengoleksi barang antik? Guci tua misalnya. Saking terobsesinya, dia rela membeli benda tersebut dengan harga puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali lipat harga guci biasa. Kita mungkin akan bertanya mengapa bisa demikian. Selain karena si kolektor hobi, dia rela membeli mahal untuk sesuatu yang antik itu adalah karena kelangkaan. Guci tua tersebut barangkali adalah sesuatu yang langka dan sulit dicari duanya. Banyak contoh benda-benda langka yang harganya naik berkali-kali lipat dan tetap saja laku. Tidak harus benda kuno.

Bayangkan Anda terdampar di sebuah padang pasir saat terik matahari yang panas mencekam. Anda kehausan dan dehidrasi hingga lemas terkulai. Di kantong Anda ada sekitar satu juta rupiah. Tiba-tiba ada seorang penjual air minuman kemasan lewat di depan Anda. Betapa terkejutnya Anda ketika menanyakan harga satu botol minuman tersebut yang hanya 1 liter air mineral biasa dan dijawab oleh si penjual “Rp.500.000/ botol, Tuan.” Kira-kira apakah Anda masih akan membelinya? Barangkali andaikan si penjual mengatakan harganya Rp.1.000.000 pun Anda akan membelinya. Demikianlah pengertian faktor kelangkaan.

Sebuah guci biasa mungkin hanya dijual seharga puluhan atau ratusan ribu rupiah saja. Namun ketika kita bicara guci tua yang antik dan langka, satu-satunya di dunia, harganya satu miliar rupiah pun barangkali masih ada peminatnya. Harga sebotol air mineral barangkali tak sampai sepuluh ribu rupiah, tapi pas giliran langka di padang pasir, sejuta rupiah pun mungkin masih ada yang beli.

FAKTOR KEDUA adalah karena INFLASI.
Berulangkali dan tak akan bosan saya mengingatkan di dalam tulisan-tulisan saya, terutama di grup MELEK DINAR DIRHAM INDONESIA (bit.ly/MelDinIndo), bahwa inflasi bukan sekedar naiknya harga barang dan jasa dalam satuan mata uang tertentu, tapi justru karena NILAI / DAYA BELI MATA UANG ITU YANG TURUN. Semangkuk bakso ketika saya masih SMP barangkali tak sampai Rp.5.000. Sekarang andai saya membeli di warung bakso yang sama, dengan tukang bakso yang sama, porsi yang sama, dan segala sesuatunya sama, tentu pasti urusan harga tak akan lagi sama seperti ketika saya masih SMP. Kini setahu saya, semangkuk bakso dibanderol dengan harga paling tidak Rp.10.000. Apakah kualitas baksonya berbeda?

Tidak. Sudah saya bilang tadi, andai semua bahan dan bumbunya sama, porsinya pun tidak diubah, bahkan orang yang masaknya pun masih sama, harga baksonya mustahil sama. “Nggak bisa Paaaak. Harga-harga semuanya naik.”, kira-kira begitu jawaban si tukang bakso andaikan Anda menanyainya mengapa baksonya jadi Rp.10.000, sedangkan dulu, belasan tahun yang lalu, Anda biasa beli cuma Rp.5.000 doang. Ngerti? Hehehe.

Inflasi adalah suatu keniscayaan, suatu kepastian, dan peluangnya 100% pasti terjadi selama kita menakarnya menggunakan naik-turunnya harga barang dan jasa DALAM SATUAN MATA UANG FIAT, entah itu rupiah atau dolar, ringgit atau rubel, yen atau renminbi, riyal atau peso. Semuanya pasti terkena inflasi. Semuanya pasti turun nilai dan daya belinya. Penyebabnya adalah mata uang fiat itu sendiri yang nilainya dipaksakan. Selembar kertas tetaplah selembar kertas, tapi karena dibubuhi gambar Bung Karno dan Bung Hatta serta angka Rp.100.000 maka sekonyong-konyong kertas itu jadi memiliki nilai, naik berkali-kali lipat. Konon untuk mencetak selembar mata uang kertas Rp.100.000, Rp.50.000, Rp.20.000, Rp.10.000 dan/ atau Rp.1.000, biayanya relatif sama, yaitu tak sampai Rp.500 jika dirupiahkan. Lalu dari mana datangnya nilai Rp.99.500 untuk setiap Rp.100.000 yang dicetak, dari mana datangnya nilai Rp.49.500 untuk Rp.50.000 yang dicetak, dan seterusnya? Itulah yang disebut dengan FIAT.

Mata uang fiat artinya mata uang yang pemberlakuannya harus dipaksakan oleh otoritas tertentu, atau –bahasa halusnya– sesuai persetujuan otoritas tertentu, dalam hal ini bank sentral atas nama Pemerintah. Oleh sebab itu, karena nilainya dipaksakan dan biasanya jauh dari nilai bahan pembuatnya, seperti dijelaskan di atas, maka lama-kelamaan dia akan kembali mendekati nilai asalnya. Jika berbentuk selembar kertas, maka dia akan kembali senilai kertas pembuatnya, khususnya dalam kondisi krisis finansial. Ingat krisis Zimbabwe tahun 2008? Tiga butir telur harus dibayar dengan 100 miliar dolar Zimbabwe (Ingat! Bukan kualitas telurnya yang beda, melainkan nilai/ daya beli dolar Zimbabwe yang turun drastis). Di Hungaria dulu pernah juga terjadi hiperinflasi, di mana orang-orang lebih senang menyapu mata uang mereka dari jalanan ketimbang dibelanjakan. Mungkin terdengar mustahil bagi kita, tapi begitulah tabiat dari mata uang fiat.

FAKTOR KETIGA, adalah karena manipulasi dan spekulasi segelintir orang. Untuk menjelaskan ini ada baiknya kita dengarkan kisah yang terkenal dengan sebutan ‘Monkey Business’.

Alkisah di suatu desa yang aman dan tenteram, datanglah seorang pengusaha dari luar desa. Pengusaha yang sudah berpengalaman ini begitu pandai melihat peluang. Ketika melihat di desa tersebut banyak monyet, si pengusaha mulai menemukan sebuah ide cemerlang. Suatu ide yang tak kan pernah terpikirkan oleh warga desa biasa, atau bahkan oleh pengusaha lainnya. Si pengusaha mulai membentuk sebuah tim yang berisikan beberapa orang. Tugas tim tersebut adalah membeli monyet tersebut dari warga desa.

Seekor monyet semula tidak ada harganya. Gratis bagi siapa pun yang hendak menangkapnya sendiri. Namun oleh timnya pengusaha tadi, dihembuskanlah kabar bahwa ada orang-orang dari luar desa yang bersedia membeli monyet dengan harga misalnya Rp.50.000/ ekor. Mendengar kabar tersebut beberapa warga desa jadi tertarik dan mulai berburu monyet. “Lumayan daripada upahan atau jadi buruh bangunan,” pikir mereka. Lama kelamaan banyak orang yang berburu monyet dan menjual kepada penadah yang tidak lain merupakan tim pengusaha pintar tadi. Harga per ekornya pun kini sudah naik berkali-kali lipat dari biasanya, sebab semakin hari monyet semakin sulit didapatkan. Dari semula harganya Rp.50.000, kini sudah mendekati angka Rp.500.000 (naik 10 kali lipat). Namun apa dikata, stok monyet di hutan semakin terbatas.

Singkat cerita, kini monyet di desa tadi hampir punah. Mencari seekor monyet butuh waktu berhari-hari, dan jika beruntung barulah ketemu. Sedangkan monyet hutan pun semakin lincah, sebab sudah berkali-kali selamat dari kejaran para pemburu.

Akhirnya, si pengusaha pun ganti strategi. “Saatnya menuai hasil”, gumamnya. Lalu dia memanggil seluruh anggota timnya untuk memberi pengarahan. Di sinilah kunci permainan mereka. Saat masyarakat sudah tercuci otaknya bahwa seekor monyet pasti laku, terakhir harganya Rp.500.000 dan kabarnya akan naik lagi. Maka, saat inilah waktu yang tepat untuk MENJUAL KEMBALI. Ketika di benak warga desa bahwa seekor monyet harganya selalu naik, maka mudah untuk membalikkan permainan. Dengan mengganti tugas anggota tim: kini diterjunkan tim baru yang bertugas menjual monyet-monyet yang sudah ditampung tadi; sedangkan tim lama bertugas menyebar hoax bahwa harga monyet akan terus melambung tinggi. Maka segelintir warga desa yang ‘sudah terkondisikan’ tiba-tiba berubah menjadi penadah baru monyet-monyet tadi, berharap harga monyet akan terus naik.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, monyet-monyet yang ditampung pengusaha tadi, ludes terjual dengan harga yang fantastis. Para penadah baru ini –yang tak lain adalah warga desa biasa– berlomba-lomba menaikkan harga. Informasi terakhir, harganya sempat di angka Rp.1.000.000.

Siapa yang paling diuntungkan dari ‘Monkey Business’ ini? Anda bisa menjawabnya sendiri. Dengan rencana yang begitu tersistem dan tim yang begitu solid, maka keuntungan yang fantastis akhirnya diraih oleh si pengusaha pintar dari luar kota tadi. Harga monyet dimanipulasi hingga naik berkali-kali lipat.

Nah, itulah tiga faktor yang menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa. Namun dari ketiga faktor di atas, hal yang paling zalim adalah fakfor kedua, yaitu inflasi. Dengan inflasi, harta kita yang berbentuk mata uang fiat selalu dicuri nilainya bahkan walaupun disimpan di brangkas besi tahan api. Naiknya harga karena kelangkaan hanya terjadi terhadap barang dan jasa yang langka saja. Manipulasi dan spekulasi meski juga bisa fatal dan mempengaruhi nasib kita secara ekonomi, tapi terjadinya hanya insidental, kecuali manipulasi yang telah dilakukan para bankir dan ‘money changer’ zaman dahulu yang telah berhasil memberlakukan mata uang fiat.