Menggugat Produk Berbasis Jender

437

Hari ini banyak sekali produk-produk yang ditawarkan kepada konsumen didefinisikan menurut jender atau jenis kelamin. Jadi, ada sampo, sabun, pasta gigi, dan sebagainya yang ditawarkan khusus bagi pria, yang dibedakan dari produk untuk wanita. Ini jelas menimbulkan persoalan: benarkah produk memiliki jender?

Secara fitrah pria dan wanita jelas berbeda. Tapi benarkah dalam segala hal, hingga produk-produknya pun harus dibedakan?

Tanpa disadari oleh konsumen acapkali produk berbasis jender ini justru menimbulkan masalah sosial dan psikologis.

Pertama, cukup jelas bahwa pemilahan produk berdasarkan jender, banyak menyasar kaum perempuan agar berbelanja lebih banyak. Bahkan dalam produk untuk wanita pun “diperinci” lagi menjadi banyak: sampo rambut kering, rambut berketombe, rambut mudah rontok, dan seterusnya.  Para kapitalis mendefinisikan jenis kulit wanita juga bermacam-macam: kulit berminyak, kulit kasar, kulit siang, kulit malam, dan seterusnya.

Kedua,banyak produk yang akhirnya memperkuat steriotipe pria dan wanita, bahkan menimbulkan kesan ketergantungan kaum perempuan sepenuhnya kepada laki-laki. Yang seharusnya, tentu saja, pria dan wanita itu dalam posisi saling mengisi. Tidak harus sama, tapi setara dalam pengertian harmonis, saling melengkapi. Anak laki-laki yang dikaitkan dengan warna biru, sementrara anak perempuan dikaitkan dengan warna pink, adalah salah satu cara menciptakan steriotipe ini sejak dini.

Ketiga, penciptaan produk “khusus perempuan” acapkali membodohi. Misalnya adanya earphone yang khusus dibuat untuk telinga wanita. Hanya dibesakan dari warna, dan mungkin sedikit ukuran, tapi dijual dengan harga lebih mahal.  Di pasaran misalnya juga beredar “kopi montok” yang ditujukan, tentu saja, bagi kaum hawa. Ini jelas pembodohan. Kopi adalah kopi. Apalagi dikatikan dengan efek yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Tujuan produsen memang mengejar keuntungan dan omset sebesar-besarnya. Mereka ingin sepenuhnya masyarakat terbentuk sebagai konsumen. Segalanya diperoleh dengan cara membeli. Maka, mereka mengeluarkan biaya sangat besar untuk melakukan riset, dan memanipulasi psikologi masyarakat. Salah satu sasaran empuknya adalah kaum perempuan.

Mengapa kaum perempuan? Karena mereka tahu kaum perempuanlah yang memegang dan mengendalikan keuangan rumah tangga. Mereka ingin agar perempuan inik jadi “sapi perahan”. Isi dompetnyaterus terkuras. Antara klain dengan menciuptakan produk “berjenis kelamin”.

Tetap waspada! Berkonsumsilah secara bijak.