Panduan agar Menabung tapi Tidak Malah Buntung

1368

Oleh Renky Yasepta

Sebagai hadiah karena telah menabung di celengan ‘ayam’ selama sekian bulan, pada suatu hari orang tua saya mengajak jalan-jalan ke suatu tempat. Ketika itu saya masih SD kira-kira kelas 3 atau 4. Saya membuat rekening pertama di bank, sebagai hadiah kesuksesan saya menabung di celengan. Hati saya riang gembira waktu itu. Kata bapakku, kalau menabung di bank nanti dapat bunga. “Asyiik”, teriakku.

Seiring berjalan waktu, dengan penuh keuletan, saya terus menabung di celengan berbentuk ayam berwarna merah itu. Celengannnya masih sama, sebab waktu dibuka sebelumnya, bapak saya hanya membuat lubang secukupnya agar koin-koin Rp.25 hingga Rp.1.000 itu dapat keluar. Begitu saja, sehingga celengan lama ini dapat ditambal-buka berkali-kali. Ketika penuh lagi, kembali saya diantar ke bank untuk menyetorkan hasil jerih payah saya itu. Hingga suatu ketika, tabungan saya sudah cukup dibelikan sesuatu, kalau tidak salah dulu saya berhasil membeli sepeda, hasil dari tabungan itu.

Begitulah sekelumit cerita kecil saya, tentang betapa pentingnya menabung untuk keperluan masa depan. Ada pepatah lama mengatakan, “Menabung di waktu muda, beruntung di hari tua”, atau “Rajin menabung pangkal kaya”, atau “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.”

Tapi… menabung seperti waktu saya masih kecil (bahkan berlanjut hingga saya SMP), di satu sisi ternyata merugikan kita. Nah lho? Mengapa bisa rugi? Bukannya pepatah-pepatah di atas benar?

Pertama, saya tidak mempermasalahkan aktifitas menabungnya. Pepatah-pepatah di atas benar adanya. Hanya saja, kebanyakan dari kita kurang tepat memaknainya.

Sekarang saya ingin tanya, benda apakah yang Anda tabung? Silakan jawab di dalam hati. Jawaban atas pertanyaan inilah yang menentukan tepat/ tidaknya aktifitas menabung Anda.

Menyimpan sesuatu yang nilainya terus berkurang dari waktu ke waktu, tentu bukanlah pilihan bijak bagi Anda yang tujuan menabungnya ingin untung. Menyimpan benda-benda tak berguna di gudang rumah kita, menurut saya percuma. Toh benda-benda tersebut tidak berguna.

Well, walaupun apa yang kebanyakan dari kita tabung bukanlah benda rongsokan tak berguna, tapi setidaknya nilainya terus berkurang. Jika saya tidak salah tebak, benda yang biasa Anda adalah mata uang, entah itu rupiah, dolar AS, atau mata uang asing lainnya. Bukankah demikian? Sama kok, saya masih kecil menabung rupiah.

Lalu, di mana letak kekurangan menabung benda-benda yang disebut mata uang itu?

Sering saya jelaskan di grup MELEK DINAR DIRHAM INDONESIA (bit.ly/MelDinIndo), bahwa mata uang fiat selalu membawa serta bencana dalam dirinya. Bencana yang dimaksud adalah inflasi. Singkatnya, inflasi adalah efek dari penciptaan mata uang fiat dari ketiadaan, alias tanpa nilai intrinsik yang sepadan.

Misalnya, selembar kertas hakikatnya bernilai selembar kertas, tetapi karena dibubuhi gambar, angka, tanda tangan gubernur bank, dan sebagainya, lalu dia menjadi bernilai, berlipat-lipat nilai aslinya malah. Nilai nominal berupa angka-angka tersebut, misalnya Rp.1.000, Rp. 2.000, Rp.5.000, Rp.50.000 hingga Rp.100.000 adalah angka fiat, alias pemberlakuannya harus dengan persetujuan otoritas tertentu.

Daya beli dari angka-angka tersebut terus menyusut seiring berjalannya waktu, disebabkan oleh inflasi. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi sepuluh tahun terakhir (2007-2017) di Indonesia berada pada angka rata-rata 5,71% per tahun. Bahkan jika dilihat sedikit mundur ke belakang, inflasi dari tahun 2005 hingga 2009 berada pada angka mendekati angka 9% per tahun, tertinggi tahun 2005 yaitu 17,11%. Apa artinya angka-angka ini?

Inflasi 5,71% per tahun artinya dalam setahun daya beli mata uang kita turun 5,71%. Bila, misalkan, tahun 2016 dengan Rp.100.000 kita dapat membeli 100 butir telur ayam, maka setahun kemudian dengan Rp.100.000 yang sama, kita hanya dapat 94,29 buah telur. Sebab daya beli rupiah telah anjlok 5,71%. Dan hal ini berlangsung terus-menerus, baik kita sadari atau tidak.

Daya beli mata uang fiat kita terus dicuri/ dikurangi dari waktu ke waktu ke waktu, entah Anda rela atau tidak, entah Anda orang miskin atau orang kaya, entah Anda orang baik atau orang jahat. Inflasi adalah pajak terselubung yang penarikannya terus-menerus dari waktu ke waktu.

So, that’s the point. Bila kita menabung mata uang fiat, dalam bentuk tabungan apa pun, nilainya terus berkurang. Tapi, bukankah bank memberikan bunga untuk tabungan kita?

Baiklah, pertama mari abaikan dulu bahwa bunga bank adalah riba. Mari kita lihat ia dari keuntungan secara materi semata.

Sebelum membuat tulisan ini, kami sempat men-survei informasi sebuah bank yang katanya berani memberi bunga tertinggi, khususnya untuk tabungan tertentu. Sebut saja Bank P.

Untuk tabungan biasa, bila simpanan Anda masih di bawah Rp. 1 M (M= miliar), bunga yang Anda dapat tidak sampai 2% per tahun.

Bunga tertinggi hanyalah deposito, yaitu tabungan berjangka, yang baru dapat Anda tarik setelah jangka waktu tertentu sesuai yang disepakati. Tapi syarat lainnya adalah Anda harus menyetorkan dana minimal Rp.10.000.000 untuk bisa berdeposito. Katakanlah tabungan Anda memenuhi syarat. Bunga deposito di bawah Rp. 2 M untuk jangka waktu 12 bulan hanya 6,25%, dan tentu saja baru bisa Anda ambil setelah 12 bulan. Sedangkan tabungan di atas 2 M hanya 6,5% untuk jangka waktu yang sama. (Silakan Anda bandingkan dengan bank-bank lainnya. Perbedaannya tak akan jauh dari angka-angka ini).

Bila inflasi katakanlah 5% per tahun, sementara tabungan Anda hanya berbunga maksimal 2% (faktanya tak sampai 2%), maka secara matematis, apakah Anda untung atau rugi? Dalam hitungan saya pada contoh ini, Anda telah rugi 3%. Sebab dalam setahun daya beli tabungan Anda berkurang 5%, sementara ia hanya ‘berkembang biak’ 2%. Adakah pepatah lain yang lebih pas ketimbang “Besar pasak daripada tiang” untuk menjelaskan kondisi ini?

Bagaimana dengan deposito? Kita bulatkan saja bunga deposito Anda jadi 6,5%. Ya, okelah, Anda masih ‘untung’ 1,5% dari inflasi 5%.

Tapi …
Apakah Anda puas cuma ‘menang’ 1,5%? Dan itu pun secara hitungan di atas kertas.Begini, tanpa maksud berprasangka tidak baik dengan pemerintah, perlu juga kita tanyakan keabsahan data inflasi itu? Agar tidak terkesan lancang, saya ingin mengambil contoh di Amerika Serikat, sebuah negeri yang katanya adidaya.

Bureau of Labor Statistics (sejenis BPS di Amerika Serikat) mencatat inflasi di AS pada tahun 2016 sebesar 2,1%. Data ini diambil dari hasil survey beberapa kebutuhan rakyat AS pada umumnya. Ternyata ada yang tidak puas dengan data resmi pemerintah ini. Salah satu alasan ketidakpuasan ini adalah disinyalir bahwa data yang disampaikan telah dimanipulasi atau sampel yang diambil tidak mewakili kondisi harga yang sesungguhnya dengan tujuan agar kinerja pemerintah terlihat baik di mata masyarakat. Bahasa kekiniannya mungkin ‘pencitraan’.

Maka dibuatlah data inflasi bayangan (atau tandingan) yang menurut penggagasnya, John William, lebih mendekati kondisi riil. Dalam situs shadowstats.com, ternyata inflasi AS tahun 2016 mendekati angka 5%. Jika data ini benar, maka terdapat selisih hampir 3% dari data yang dilaporkan pemerintah. Artinya, telah terjadi pembohongan publik di mana inflasi riil (versi ShadowStats) lebih besar ketimbang yang dilaporkan pemerintah AS. Untungnya ini terjadi di Amerika Serikat, sebuah negara yang katanya sudah maju. Semoga tidak terjadi di negeri ini.

Kita kembali soal menabung. Anggap saja data yang dikeluarkan BPS benar adanya. Kita simpulkan saja, menabung dengan tabungan biasa kita bukannya untung, malah merugi hingga 3% karena daya beli dana kita tergerus inflasi. Sedangkan dengan deposito 12 bulan Anda baru untung 1,5%, itu pun dengan dana minimal Rp.10.000.000.

Anda barangkali akan pilih deposito, bukan? Tapi pertanyaannya, apakah sebagain besar dari kita punya dana minimal Rp.10.000.000 buat didepositokan?
Sampai di sini dapat kita katakan bahwa menabung di bank itu selain cenderung merugikan, juga ribet dengan syarat yang njelimet dan kemungkinan sebagain dari kita sulit memenuhinya. Bank tak akan mau merugi dengan menganak-pinakkan dana Anda. Buktinya, ketika memberi pinjaman, dia akan membebankan biaya dan bunga berkali-kali lipat ketimbang bila Anda ingin menabung.

Lalu, jika bank bukan lagi tempat yang aman, harus disimpan di mana harta kita?

Menyimpan di bawah bantal atau celengan kuno tentu bukanlah pilihan yang bijak, selama apa yang kita simpan itu berbentuk mata uang fiat. Dengan inflasi rata-rata 5%, maka bila disimpan sendiri di rumah, kita justru merugi senilai inflasi itu.

Sebenarnya, ada beberapa bentuk tabungan yang tetap akan membuat kita untung.

Pertama, Sedekah. Tak harus ustadz atau ulama yang menjelaskan manfaat sedekah, kini para motivator dan ahli kesehatan pun mengakuinya, dan dalam berbagai kesempatan sering menganjurkan kita untuk sedekah. Sedekah akan berbalas kembali kepada kita, dengan berkali-kali lipat dan dalam bentuk kebaikan yang kadang tak pernah kita pikirkan sebelumnya. Science proven!

Kedua, Bisnis. Memang hal ini sedikit beresiko. Jika dana Anda ingin berkembang biak dengan cepat dan halal, maka bisniskanlah. Misalnya saja jualan makanan, untungnya dapat 30-60 persen sekali jualan, tentu tergantung keahlian kita dalam bisnis juga. Hal yang perlu juga diperhatikan dalam bisnis adalah soal halal-haram, baik barang dagangannya maupun akad/ kontraknya. Silakan pelajari mualamah untuk lebih jelasnya. Saking pentingnya mempelajari muamalah ini terutama terkait jual-beli dan riba, sampai-sampai Umar bin Khattab pernah memperingatkan orang-orang agar jangan dulu berdagang sebelum paham betul mengenai riba.

Ketiga, simpanlah dalam aset yang nilainya tidak tergerus inflasi. Dua jenis benda yang nilainya cenderung stabil adalah emas dan perak. Konon kenaikan ‘harga dalam rupiah’ (lebih tepatnya ‘daya beli’) keduanya dalam rentang waktu yang relatif lama bisa mendekati angka 20-30% per tahun.

Menurut kitco.com (sebuah situs penyedia informasi harga logam mulia), awal tahun 2000 harga emas per troy ons sekitar 300 USD. Akhir Agustus 2011, harga emas telah bertengger di angka 1.884 USD / troy ons. Selama 11 tahun tersebut, grafik pergerakan harga emas selalu menanjak naik. Bila dirata-ratakan, daya beli emas dalam rentang waktu tersebut naik sekitar 48% per tahun (dari 300 dolar ke 1800an dolar AS).

Walaupun demikian, harus diakui, sejak nangkring di harga tertinggi akhir Agustus 2011 tren harga emas mengalami penurunan hingga kini, Mei 2017, pada angka 1.260 USD/ troy ons. Namun jika dilihat dalam jangka panjang, misalnya dari tahun 2000 di atas, daya beli emas tetap naik rata-rata 18% per tahun (dari 300 dolar AS tahun 2000 ke 1.260 dolar AS per Mei 2017). Perak juga mengalami tren kenaikan yang tidak begitu berbeda dengan kakak kandungnya, emas ini.

Terkait emas dan perak, bentuk yang saya sarankan adalah Dinar atau Dirham dan turunannya. Ada juga sebagian yang menyarankan emas batangan, yang memang secara keuntungan materi (tahan terhadap inflasi) mirip-mirip dengan Dinar dan Dirham, tetapi dengan Dinar dan Dirham kita mendapat dua keuntungan sekaligus: Pertama, tahan terhadap inflasi; Kedua, ada syiar dakwah di dalamnya.

Alasan mengapa harus Dinar dan Dirham adalah karena keduanya merupakan uang sejati, penakar harga yang adil sepanjang masa dan memenuhi keseluruhan fungsi uang sekaligus (sebagai ‘medium of exchange’, ‘unit of account’ dan ‘store of value’). Jika suatu saat Islam berjaya kembali, maka uangnya pun pasti terbuat dari emas dan perak, Dinar dan Dirham.

Kelebihan lain dari Dinar dan Dirham, terutama Dirham adalah, kita bisa memulainya dengan dana yang sangat minim. Per hari ini 31 Mei 2017, menurut situs www.wakalaindukbintan.com, harga –sekali lagi lebih tepatnya disebut daya beli– 1 Dinar setara dengan Rp.2.300.000, dan 1 Dirham setara dengan Rp.70.000. Saran saya mulailah dengan Dirham. Segera hubungi wakala-wakala terdekat di kota Anda.

So, urusan menabung sudah kita telanjangi bersama. Saya tidak memaksa Anda untuk berpaling dari bank bila Anda masih nyaman dengan hitung-hitungan bila menabung di bank. Upps, saya hampir lupa, plus ingat juga dosa ribanya bila memang tujuan kita menabung untuk menganak-pinakkan dana kita di bank.

Tapi harus diakui memang, salah satu kelebihan bank saat ini adalah mengenai kepraktisan, dalam hal transfer dana, atau menyimpan dana untuk keperluan sehari-hari dalam bentuk ATM (dan bukan untuk menabung dalam jangka panjang). Saya pun tidak menganjurkan Anda meninggalkan bank untuk urusan demikian.

Semoga suatu saat juga ada ATM yang dapat menyimpan Dinar dan Dirham, sehingga kita juga dapat merasakan kepraktisannya.