Panduan Mencermati Jebakan dan Trik Perbankan

1136

Saat ini kebanyakan orang, terpaksa atau tidak terpaksa, haru sberhubungan dengan jasa perbankan. Bukan saja untuk menitipkan uang, tapi justru untukmeminjam uang alias berutang, termasuk untuk keperluan konsumtif: membeli rumah, mobil, biay akesehatan dan pendidikan, bahkan utnuk sekadar jajan.

Tapi, berhati-hatilah, banyak pernagkap dan jebakan maut dipasang para banir dalam menjerat Anda untuk menjadi pengutang selamanya. Berikut ini sebuahkisah nyata, pengalaman seorang konsumen, yang telahbanyak di-share di media sosial, saat meminjam uang di bank. Tulisannya berjudul: “Fakta Mengerikan Saat Meminjam Uang Di BANK

Ini adalah skema perhitungan di salah satu BANK yang saya pernah ambil kredit di situ. Bank ini tersebar luas di seluruh Indonesia. Kalau saya sebutkan pasti anda tahu. Tapi tidak penting itu bank apa, hampir semua bank sekarang menggunakan skema kredit yang sama.

Kalaupun skema kreditnya berbeda, tetap saja ujung-ujungnya ketemunya mirip-mirip semacam saudara kembarlah.

Dalam Islam, selain RIBA membuat RAIB harta benda kita, ternyata kita selama ini dibodohi dengan sistem perbankan yang tidak fair.

Trik-trik perbankan di antaranya adalah:

  1. Memberikan iming2 bunga rendah.

“Ini bunga cuma 2%, Pak.”

“Khusus buat Bapak karena pelanggan setia, kita kasih bunga ringan hanya 1%, Pak.”
Dan bermacam-macam rayuan maut yang luar biasa.

Anda akan berpikir, margin keuntungan saya selama ini kan 20% dari modal, berarti kalau saya pinjam bank, saya nambah penghasilan banyak, karena modal saya + utang = margin nambah banyak. Sementara bunga hanya 1% dari utang. Masak iya misal utang Rp. 75 juta tidak bisa ngasih bunga Rp. 750.000,-. Kan kalau modal saya ditambah Rp. 75 juta, saya akan mendapatkan tambahan penghasilan rata-rata 20% = Rp. 15 juta!!!

Wah, bunga Rp. 750.000,- kecil banget.

Anda lupa, kalau uang Pinjaman itu setiap bulan terus berkurang, itu berarti bulan depannya, bunga yang anda bayar bukan 2% dari pinjaman anda, tetapi sudah membesar. Semakin bulan, bunga yang anda bayar semakin besar. (Lihat pada gambar)

  1. Tidak menjelaskan dan transparan sistem kreditnya. Yang ditekankan, cepat cair.

Karena kebanyakan orang yang utang di bank adalah orang yang terdesak keperluan sehingga yang penting cepat cair, maka bank dengan lihai menghindari menjelaskan skema kreditnya.

Anda akan berpikir, kalau saya utang Rp 10 juta selama 10 bulan, maka ketika saya sudah mengangsur selama 5 bulan, maka utang saya hanya tinggal 5 juta.

Padahal itungan aAda itu mutlak salah. Kebanyakan bank menggunakan sistem BUNGA MENURUN. Ihh..,  ENAK yah bunganya menurun?? Kata teman saya: ENAK PALA LO PEANG!

Hehehehe, saya memaklumi, gregetannya kawan saya yang pernah juga seperti saya juga, kena jebakan bank di bank yang sama, sampai habis semua miliknya, bahkan sampai rumahpun sekarang tidak punya.

Apa sih bunga menurun? Lihat langsung saja  di gambar, tak perlu  penjelasan detil. Intinya skema bunga menurun ini bukan menguntungkan Anda, tapi sangat-sngat merugikan Anda.

Ketika Anda mau melunasi kekurangan utang Rp  10 juta, yang tinggal Rp 5 juta tadi, bisa jadi Anda harus membayar Rp. 8.5 juta. Kok bisa? Bukan Rp 5 juta?

Karena skema bunga menurun, ada denda angsuran-angsuran ke depan, denda bunga berjalan, denda pinalti, dan administrasi.

  1. Anda dibuat panik

Biar tidak banyak tanya, dan tidak sempat membaca surat perjanjian kredit, bank biasanya tiba-tiba saja memanggil Anda untuk pergi ke bank, untuk tanda tangan, di waktu yang mepet, dan terkesan terburu-buru.

Yang sebentar lagi kas tutup, yang notarisnya sebentar lagi pergi, dan surat perjanjian kredit itu memiliki kekuatan hukum, tapi anehnya lembaran-lembaran yang begitu banyaknya dengan tulisan kecil-kecil sekali,  kita tidak diminta untuk membaca sebelumnya. Harusnya karena itu memiliki konsekuensi hukum, kita diberi waktu  2-3 hari untuk mempelajari dan untuk setuju atau tidak dengan perjanjian tersebut.

Begitu tanda tangan, ternyata isinya adalah tali gantung yang siap mengeksekusi kita kapan pun.

  1. Biaya-biaya dan tabungan

Ketika kita pinjam uang Rp. 75 juta, kita tidak akan benar-benar menerima uang Rp. 75 juta. Paling sekira Rp. 70 juta. Karena banyak potongan:

Yang pernah saya alami, sbb:

  1. Kena biaya administrasi bank dan notaris
  2. Kena biaya provisi (uang jasa kepada bank karena sudah mencairkan pinjaman. Aneh ya, ngasih pinjaman, kasih jasa untuk diri sendiri)
  3. Untuk 1x cicilan bulan depan (cicilan pertama) sudah ditinggal di buku tabungan yang akan didebet (sama saja bohong kan)
  4. Biaya materai yang seabreg
  5. Ninggali lagi buat tabungan sekian %.

Ah, banyak sekali trik-trik perbankan untuk menjebak kita. Kalau ditulis bisa jadi satu  buku sendiri.  Sudahlah, Kita langsung saja pada angka-angka di gambar.

Di situ dicontohkan saya meminjam uang ke Bank sebesar: Rp. 75 juta

  • Jangka waktu: 36 bulan
  • Uang yang saya terima bersih : Rp. 70 juta
  • Keuntungan bank: Rp. 54.949.000
  • Prosentase bunga sesungguhnya: 73.25%
  • Karena menggunakan sistem bunga menurun, maka cicilan saya sebesar Rp. 3.470.000,- yang dihitung sebagai angsuran pokok hanya Rp. 1.169.000,- sementara bunganya Rp. 2.301.000,-.

Jadi ternyata sistem bunga menurun itu, BUNGA DIAMBIL LEBIH BESAR DIAWAL, sehingga pokok cicilan jauh lebih kecil.

Ini yang menyebabkan, kalau anda nyicil putus di tengah jalan, bank tidak akan rugi, karena sebagian besar bunga sudah mereka dapatkan. Kalau diteruskan mereka dapat bunga penuh. Bank tak  ada kalahnya, kita yang diperas habis-habisan.

Memiliki utang bank, artinya anda siap bekerja siang malam, berpikir siang malam, peras keringat siang malam, merasa khawatir siang malam, was-was siang malam, dan hasil kerja anda anda serahkan kepada bank, bahkan anda harus mengantre untuk memberikan hasil keringat anda. Bisa jadi, hasil yang anda dapatkan diserahkan semua, sementara anak istri dirumah menangis kekurangan atau bahkan sedang kelaparan.

Sementara Pegawai-pegawai bank, pakai baju rapi, pakai dasi, badan wangi, gaji berjuta-juta di ruangan ber AC dan santai-santai menerima uang dari kita yangg pada antri.

Anda masih mau jadi budak?