Panduan Mengenali Mutu Madu Hutan

1322

Di satu forum kesehatan dibahas perihal madu, dan muncul seorang ibu berkata:”Aku sih kalau cari madu yang kental, kalau encer yah sepertinya itu bukan madu asli tapi ada tambahann air. “  Sekilas pernyataan itu memang tidak menjadi masalah sebab salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas madu adalah kadar air atau kandungan air yang terdapat pada madu dan jumlahnya dinyatakan dalam prosen (%). Namun, ada berbagai hal yang perlu dipahami.

1. Pendapat bahwa madu encer itu pasti madu palsu atau dicampur air adalah pendapat yang tidaklah benar. Madu hutan Indonesia umumnya  dipanen pada musim hujan dan peralihan memiliki kadar air yang tinggi. Kondisi ini sangat berkaitan dengan iklim Indonesia yang ditandai dengan curah hujan dan kelembaban yang tinggi sebagai konsekuensi wilayah yang berekosistem hutan tropik basah. Bahkan madu hutan yang diperoleh dari kawasan hutan di sekitaran danau Sentarum, Kalimantan Barat kadar airnya sampai 29 %. Madu Sentarum ini sangat diburu orang dari dalam maupun luar negeri, merupakan salah satu madu terbaik di Indonesia. Rasanya manis dan ada pahitnya dikit. Seorang ahli permaduan Gojmerac (1983) menyatakan bahwa kadar air madu di Indonesia tinggi disebabkan oleh kelembaban relatif (Rh) udara di Indonesia yang tinggi . Selanjutnya Sihombing (2005) menyebutkan bahwa kelembaban relatif (Rh) Indonesia berkisar 60% hingga 90%, menghasilkan kadar air madu sekitar 18,3% sampai 33,1%.

2. Pendapat bahwa madu asli pasti kental akhirnya mendorong usaha penipuan, semua dilabeli madu asli istimewa, sangat kental terkadang lengkap dengan bahasa negara asalnya. Harganya menjadi sangat mahal bahkan terkadang bisa diatas satu juta rupiah. Pengorbanan terlalu tinggi dan sia-sia yang dibangun dari ketidakmengertian tentang sifat fisik-kimia madu. Untuk kental banyak cara yang bisa dilakukan, termasuk membuat madu sintetis dari awal yang bisa diatur kadar airnya atau madu setengah asli dicampur bahan lain untuk memperbaiki kekentalannya. Ini fakta umum, meski ada fakta khusus yang benar-benar menjual madu kental dari negera seberang yang memang berekosistem mendukung seperti dari timur tengah. Tetapi sesuai temuan Bina Aprika bahwa sekitaran 80 persen madu yang beredaran di pasar adalah palsu, maka kita perlu hati hati.

3. Kembali ke madu hutan Indonesia maka tidaklah mungkin dijumpai madu hutan (raw honey/madu mentah/madu asal) sepanjang tahun dengan kadar air. yang sama, kecuali telah mengalami beberapa proses pasca panen seperti : pemanasan langsung, pemansan tidak langsung (metode dehidrasi), metode penguapan (metode dehumidifikasi). Metode pertama terbukti sangat merusak kualitas madu, metode kedua dan ketiga yang saat ini dikembangkan di Indonesia juga perlu diberi catatan. Menurut hasil riset Hotnida Siregar ( tesis riset S2 IPB) bahwa kedua metode tsb meningkatkan kadar HMF dan menurunkan aktivitas enzim diastase. Meningkatnya kadarkadar HMF dan menurunnya aktivitas enzim diastase menunjukan kualitas madu yang semakin turun/jelek.

4. Lalu bagaimana dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) mematok angka 22 % untuk madu berkualitas? Menurut saya jawabannya menjadi relatif. Tidak bisa disamakan untuk sembarang musim. Pemyamaan seperti ini akan menyulitkan penggemar madu mentah (raw honey) yang diyakini lebih menyegarkan dan lebih menyehatkan, karena para pemanen madu di hutan akan berlomba memberikan perlakuan pasca panen seperti diterangkan di atas.

5. Jadi gimana cara yang baik? Anjuran dari beberapa pakar kesehatan holistik dan para pelanggan yang telah merasakan manfaat madu hutan (raw honey) lebih menyarankan dan menghendaki untuk mengkonsumsi madu hutan tanpa proses (raw honey). Terus? Ya cari madu tersebut tentunya juga dari sumber yang menurut anda dapat dipercaya, sumber tereferensi dan atribut silsilah yang lengkap. Kalau tokh terpaksa anda mendapatkan yang mengalami pemrosesan hindari yang mengunakan pemanasan.

Sumber:  Ali al Katiri, Jaringan Permaduan Indonesia