Panduan Tata Cara Menjalankan Muamalah

1297

Rasul SAW bersabda : Al Dien Al Muamalah.  Islam adalah tindakan, bukan sekadar konsep atau ide. Dan tindakan yang merupakan interaksi sosial sehari-hariitulahyang disebut sebagai muamalah. Di antaranya yang penting adalah dalam perdagangan, jual beli, utang piutang, berusaha dalam pertanian, peternakan, perikanan, maupun dalam industri manufaktur.  Appek muamalah yang lain adalah soal pernikahan, waris mewariskan, dan lain sebagainya, kegiatan yang nonkomersial sifatnya.

Saat ini umat Islam praktis tidak lagi mengenal hukum muamalah yang sifatnya komersial di atas. Hampir di seluruh dunia Islam kaum muslim menerapkan hukum sekuler dalam kegiatan muamalah komersial mereka. Karena itu, panduan yang dapat menjelaskaan kembali kaidah-kaidah muamalah komersial ini sangat diperlukan.

Inilah yang disajikan oleh Shaykh Umar I Vadillo dalam buku berjudul Muamalaat The ALternative to Riba System Exists ini. meskipun cukup ringkas, dan padat, di dalamnya berisikan penjelasan pokok tentang halal-haram dalam bermuamalat. Yang paling mendasar tentu saja dalah pengertian tentang riba.

Selain itu dijelaskan berbagai syarat dan rukun dalam jual beli. Lalu penjelasan tentang alat tukar dan uang di dalam syariat Islam. Kemudian ada uraioaan tentang kontrak-kontrak dalam muamalah, khususnya syirkah (kerjasama usaha dalam paguyuban produksi) dan qirad (kerjasama usaha perdagangan).

Secara historis, ’amal muamalat di kalangan kaum Muslim, dapat kita kenali di dalam lima pilar muamalat, berikut ini.

  1. Pasar

Pilar pertama yang kini hampir sepenuhnya runtuh adalah pasar, yakni tempat-tempat umum untuk masyarakat berdagang. Rasulullah SAW menyatakan bahwa pasar sama dengan masjid, tidak boleh dimiliki secara pribadi, tidak ada sewa, tanpa pajak, dan tidak ada bangunan permanen: terbuka penuh bagi siapa pun. Yang ada di sekeliling kita saat ini, bahkan yang disebut sebagai ”Pasar Tradisional” sekalipun, bukanlah pasar menurut hukum syariat. Bangunan-bangunan permanen tersebut adalah kumpulan kios milik orang-perorang, yang untuk pemilikannya pun dikenai berbagai pajak pula.

  1. Dinar dan Dirham

Pilar kedua adalah alat tukar (uang) yang halal. Rasul SAW menyebutkan enam jenis alat tukar ini, yakni emas, perak, gandum, barle, kurma, dan garam (dalam riwayat lain disebut kismis). Ringkasnya alat tukar yang halal haruslah berupa komoditi yang umum dipakai sebagai alat jual-beli,  yang paling lazim di antaranya adalah uang emas (dinar) dan uang perak (dirham). Tanpa alat tukar berbasis komoditi berbagai transaksi muamalat – khususnya utang-piutang dan jual-beli – tidak dapat berlaku adil, karena bersifat merugikan salah satu pihak.

  1. Pedagang Keliling

Pilar ketiga, sesudah pasar dan mata uang, tentu saja, adalah keberadaan para pedagang itu sendiri, baik secara sendiri-sendiri atau berombongan dalam rombongan keliling, dulu dikenal sebagai kafilah-kafilah (karavan). Para pedagang adalah penggerak utama ekonomi, baik dengan modal sendiri, maupun bermitra dengan para investor. Rasulullah SAW mengindikasikan bahwa ”9/10 rezeki ada pada perdagangan”. Lagi-lagi, yang kita lihat di sekeliling kita saat ini, bukanlah pedagang dan perdagangan. Mereka adalah ”buruh-buruh lepas” pabrikan, yang diperlakukan sebagai outlet-outlet distribusi produk mereka.

  1. Paguyuban Produsen

Pilar keempat, ketika pasar telah tersedia dan ramai dikunjungi para pedagang dan pembeli, maka produksi akan tumbuh kembali di tangan masyarakat, melalui syarikat-syarikat (paguyuban/perkongsian) produksi. Dalam syarikat-syarikat produksi  (di Eropa dikenal sebagai gilda) inilah bekerja sebagian besar orang sebagai para pemilik atau mitra-pemilik (co-owner). Dalam muamalat posisi majikan-buruh adalah perkecualian belaka,  berkebalikan dengan keadaan saat ini, ketika pemilikan adalah perkecualian, dan perburuhan adalah kelaziman.

  1. Kontrak Bisnis Berkeadilan

Pilar kelima, sebagai konsekuensi dari kembalinya keempat pilar di atas, adalah kontrak-kontrak bisnis dan komersial menurut syariat: qirad (mudharabah), syirkat (perkongsian), muzara’ah (bagi hasil), dan sebagainya. Qirad  (mudharabah) adalah kontrak kemitraan usaha dagang, antara pemodal dan agen yang ditunjuknya. Syirkat adalah kemitraan produksi sekunder. Muzara’ah adalah kemitraan produksi primer, seperti dalam pertanian dan perkebunan, di Jawa dikenal dengan istilah Maro.

Semua yang dikemukakan di atas barulah garis besar. Banyak hal rinci tentang muamalah yang masih harus kita pelajari dan amalkan.  Buku ini menguraikan secara lebih detil berbagai pilar ini, dengan uraian yang jelas dan lengkap.

Buku ini memang ditulis dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dlam bentuk e-book yang tersedia secara cuma-cuma.

Perlu diketahui bahwa Shaykh Umar I Vadillo adalah ulama dari Spanyol, dan merupakan pelopor pencetakan kembali dinar emas dan dirham perak. Beberapa bukunya yang lain telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, oleh penerbit Pusataka Adina (Depok). Buku-buku ini sinopsisnya dapat dilihat di www.zaimsaidi.com/category/books.

Silakan didonlod, dipelajari, dipahami, diamalkan. Lalu diajarkan dan ditularkan. Dokumen dapat ditemjukan di tautan berikut:
http://metakave.com/publications/muamalat-english.php