Tarif Listrik Naik Terus Akibat PLN Terjerat Utang

2085

Oleh  Sigid Kusumowidagdo

Laba bersih PLN merosot 32,69 % menjadi hanya 10,5 Triluin (T) pada 2016 dari sebelumnya Rp 15,6 T. Menurut Direktur keuangan PLN penyebab dari turunnya laba bersih PLN karena naiknya beban penyusutan (depresiasi) PLN yang harus ditanggung perusahaan sesuai kebijakan pemerintah untuk melakukan Revaluasi asset.

Revaluasi aset dilakukan untuk menyesuaiakan harga aset PLN susai dengan nilai/harga pasar aset PLN pada revaluasi yang diadakan  akhir 2015.  Setelah asset direvaluasi total asset dan ekuitas perusahaan melonjak menjadi Rp 650 T, masing-masing asset naik menjadi 227% dan ekuitas 453% sehingga beban penyusutan PLN yang harus ditanggung oleh PLN naik menjadi Rp 27,51 T dari sebelumnya Rp 21,41 T.

Apa tujuan dari revauasi asset?

Dengan meningkatkan nilai asset dan ekuitas bisa meningkatkan kapasitas pinjaman PLN sehingga lebih banyak bisa meminjam dana dari bank. Peningkatan pinjaman ini diperlukan untuk membangun prorgram pembangunan pembangkit tenaga listrik 3 5,000 watt. Sebab rasio utang PLN sebelum dilakukan revaluasi asset sudah mencapai 300%.

Untuk pembanguan proyek-proyek pembangkit listriak baru itu PLN harus mendapatkan dana tambahan Rp 700 Trilyun, tetapi pembangunannya dibebankan kepada Keuangan PLN. Mungkin beba utang pemerintah pusat sudah terlalu banyak.

Beban pembelian tenaga listrik PLN telah naik naik menjadi Rp 58.72  T naik dari Rp 51.69 T di tahun 2015. Total beban usaha PLN naik dari 246,26 T menjadi Rp 254,44 T dan PLN sebenarmya telah berhasil menaikan penjualan listrik menjadi Rp 214,14 T naik dari Rp 209,84 T.  Tetapi beban keuangan yang dibebankan kepada PLN di luar kemampuan normal keuangannya sehingga harus dibebankan ke pelanggan.