Waspada, Perampokan Terselubung dalam Struk Belanjaan

1160

Beberapa hari terakhir ini di media sosial ramai dibicarakan adanya “pungutan-paksa” yang dimasukkan dalam struk belanjaan. Semula, praktek “donasi” atau “sumbangan sosial” serupa itu banyak dilakukan oleh para kasir di minimarket dengan cara meminta kembalian, yang acap kali angkanya memang “keriting”. Ini istilah buat angka nominal yang nampaknya kecil, mislanya Rp 75 sampai Rp 500.¬† Tetapi, jumlah transaksi setiap harinya bisa jutaan kali, maka nilai kembalian itu secara total bisa miliaran rupiah.

struk-belanja

Kali ini, caranya lebih kasar lagi, yakni dengan si kasir langsung menambahkan dalam struk¬† belanjaan sejumlah uang di luar transaksi jual beli. Tertulis “Donasi-Ku Bangun Negeri I”. Jumlahmnya Rp 100.

Nah, yang jadi masalah adalah untuk kegiatan apakah donasi tersebut? Dan mengapa dimasukkan dalam struk seolah sebagai bagian dari belanja? Tentu banyak konsumen yang tidak memperhatikan tambahan “sekecil” itu. Tapi, jelas itu pungutan paksa. Secara lugas kita bisa katakan sebagai pencurian. Dan kalau jumlahny masif namanya perampokan.

Waspadalah konsumen. Jangan lupa selalu memeriksa struk pembelian, dan tanyakan hal yang tidak jelas. Pembebanan biaya, meski itu disebut sebagai sumbangan atau donasi sosial, tanpa izin harus ditolak.